RUANG LINGKUP KIMIA (PART 2)

A.  METODE ILMIAH

Metode ilmiah adalah suatu cara sistematis yang digunakan para ilmuwan dalam memecahkan atau mencari jawaban atas masalah-masalah yang dihadapi dalam penelitian. Langkah-langkah Metode Ilmiah:

1.    Observasi Awal

Peneliti mengamati keadaan awal dari objek penelitian. Pada kegiatan ini dilakukan karakterisasi objek dan analisis terhadap sifat-sifatnya.

2.    Identifikasi Masalah

Menemukan permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian.

3.    Perumusan hipotesis

Membuat rumusan awal yang menjelaskan permasalahan yang ingin diangkat. Hipotesis bersifat sementara karena belum adanya hasil objektif dari eksperimen, oleh karena itu hipotesis tidak bisa dijadikan kesimpulan hasil penelitian ilmiah.

4.    Eksperimen

Percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menganalisis permasalahan yang ingin diidentifikasi. Eksperimen yang umum dilakukan adalah rekayasa penciptaan ulang permasalahan, dengan kata lain peneliti meniru proses terjadinya permasalahan yang diteliti. Pada eksperimen variabel-variabel yang berpengaruh pada proses fisis dikendalikan sebaik mungkin, sehingga peneliti benar-benar mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh pada hasil eksperimen tersebut.


 5.    Analisis Hasil

Peneliti melakukan analisis terhadap hasil eksperimen. Analisis ini dikembangkan dari rumusan hipotesis yang telah dibuat sebelumnya, terutama apakah hipotesis yang dibuat dapat menjelaskan fenomena permasalahan yang terjadi atau tidak. Jika terdapat hubungan yang jelas atau kesesuaian antara hasil eksperimen dengan hipotesis, maka hasil analisis dapat dijadikan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Jika tidak, maka dilakukan pengulangan langkah-langkah sebelumnya. Pengulangan dapat dilakukan dari tahapan perumusan hipotesis atau dari tahap eksperimen.

6.    Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan menjadi penutup dari langkah-langkah penelitian dengan metode ilmiah. Setelah hasil dianalisis dan dihubungkan dengan hipotesis, peneliti dapat menarik kesimpulan yang menjelaskan hubungan-hubungan tersebut dengan singkat. Kesimpulan sejatinya dibuat dengan jelas dan padat, menggambarkan inti dari eksperimen dan tidak keluar dari eksperimen yang dilakukan.

 

B.   KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM

Busana atau pakaian di laboratorium hendaklah mengikuti aturan sebagai berikut :

  • Dilarang memakai perhiasan yang dapat rusak oleh bahan kimia, sepatu safety yang terbuka, sepatu licin, atau berhak tinggi. Harus menggunakan sepatu safety yang memenuhi standar. Bagi wanita juga harus menggunakan sepatu safety khusus wanita.
  • Wanita dan pria yang memiliki rambut panjang harus diikat, rambut panjang yang tidak terikat dapat menyebabkan kecelakaan. karena dapat tersangkut pada alat yang berputar.
  • Pakailah jas praktikum, sarung tangan dan pelindung yang lain dengan baik meskipun, penggunaan alat alat keselamatan menjadikan tidak nyaman. Bila anda bekerja dengan bahan kimia, diperlukan perhatian dan kecermatan dalam penanganan. 

 

Perlengkapan Saat Berada di Laboratorium

Berikut ini terdapat beberapa perlengkapan saat berada di laboratorium, terdiri atas:

Jas Laboratorium

Jas Laboratorium berfungsi untuk melindungi pakaian yang kita kenakan dari kontak fisik zat-zat dan senyawa kimia.


Masker

Pada saat memasuki Laboratorium, maka kita akan mencium aroma yang tidak sehat, dari itu masker diperlukan.


Sarung Tangan

Sarung tangan digunakan saat akan melakukan berbagai reaksi kimia, tujuannya adalah agar tangan kita tidak berkontak langsung denagn bahan kimia tersebut.


Kaca Mata

Kaca mata yang dimaksud disini adalah kaca mata yang dapat melindungi mata dari reaksi-reaksi kimia dan bahan kimia.


Sepatu

Sepatu berfungsi melindungi kaki dari kontak fisik dengan zat-zat atau senyawa kimia.

 

Tata Tertib Keselamatan Kerja

Aturan umum dalam tata tertib keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

1. Dilarang mengambil atau membawa keluar alat-alat serta bahan dalam laboratorium tanpa seizin petugas laboratorium.

2. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke laboratorium. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

3.  Gunakan alat dan bahan sesuai dengan petunjuk praktikum yang diberikan.

4. Jangan melakukan eksperimen sebelum mengetahui informasi mengenai bahaya bahan kimia, alat-alat, dan cara pemakaiannya.

5. Bertanyalah jika Anda merasa ragu atau tidak mengerti saat melakukan percobaan.

6. Mengenali semua jenis peralatan keselamatan kerja dan letaknya untuk memudahkan pertolongan saat terjadi kecelakaan kerja.

7. Pakailah jas laboratorium saat bekerja di laboratorium.

8. Harus mengetahui cara pemakaian alat darurat seperti pemadam kebakaran, eye shower, respirator, dan alat keselamatan kerja yang lainnya.

9. Jika terjadi kerusakan atau kecelakaan, sebaiknya segera melaporkannya ke petugas laboratorium.

10. Berhati-hatilah bila bekerja dengan asam kuat reagen korosif, reagen-reagen yang volatil dan mudah terbakar.

11. Setiap pekerja di laboratorium harus mengetahui cara memberi pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

12.  Buanglah sampah pada tempatnya.

13. Usahakan untuk tidak sendirian di ruang laboratorium. Supaya bila terjadi kecelakaan dapat dibantu dengan segera.

14.  Jangan bermain-main di dalam ruangan laboratorium.

15.  Lakukan latihan keselamatan kerja secara periodik.

16.  Dilarang merokok, makan, dan minum di laboratorium.

 

Pemeliharaan, Penyimpanan, dan Penggunaan Bahan Kimia

Untuk mencegah terjadinya bahaya yang tidak diinginkan, penyimpanan bahan kimia perlu memperhatikan hal-hal berikut.

  • Botol-botol yang berisi bahan kimia disimpan pada rak atau lemari yang disediakan khusus untuk itu.
  • Jangan mengisi botol-botol sampai penuh.
  • Jangan menggunakan tutup dari kaca untuk botol yang berisi basa, karena lama kelamaan tutup itu akan melekat pada botol dan susah dibuka.
  • Semua peralatan/gelas kimia yang berisi bahan kimia harus diberi label yang menyatakan nama bahan itu.
  • Bahan kimia yang dapat bereaksi hebat hendaknya jangan disimpan berdekatan.
  • Bahan-bahan kimia yang sangat beracun dan berbahaya hendaknya dibeli dalam jumlah kecil dan tanggal pembeliannya dicatat.
  • Semua bahan persediaan bahan kimia secara teratur diteliti.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan zat-zat kimia, yaitu:

1.    Tabung reaksi yang berisi zat kimia tidak boleh diarahkan ke wajah sendiri atau orang lain.

2.    Senyawa kimia tidak boleh dibau.

3.    Larutan kimia yang tertuang di meja praktikum atau di lantai dibersihkan segera dengan cara asam pekat dinetralkan dahulu dengan serbuk NaHC03. Basa kuat dinetralkan dahulu dengan serbuk NH4CI, kemudian ditambah air yang cukup.

4.    Larutan pekat yang tidak terpakai harus dibuang setelah diencerkan dengan air terlebih dahulu. Mulut tabung reaksi atau bejana, selama digunakan untuk pencampuran atau pemanasan tidak boleh ditengok langsung.

5.    Senyawa/zat kimia tertentu (asam kuat dan basa kuat) tidak boleh dicampur karena akan terjadi reaksi yang dahsyat, kecuali sudah diketahui pasti tidak menimbulkan bahaya.

6.    Penggunaan pelindung wajah sangat diperlukan jika menangani zat-zat/senyawa-senyawa kimia yang berbahaya, dan jangan mengembalikan zat/senyawa kimia yang terlanjur tertuang untuk dikembalikan ke botol asalnya

 

Cara Membedakan Bahan Kimia Berbahaya

Cara mengetahui antara bahan kimia berbahaya dengan bahan kimia yang tidak berbahaya diperlukan suatu simbol khusus yang bersifat universal. Oleh karena itu lambang dan simbol bahan kimia berbahaya harus diketahui agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan, terutama ketika kita berada di laboratorium yang didalamya terdapat banyak benda dan bahan kimia berbahaya. Berikut ini adalah simbol bahan kimia berbahaya beserta penjelasannya.

 

1 . Oxidizing (Pengoksidasi)

Simbol Bahan Kimia Mudah Teroksidasi
Oxidizing atau Bahan kimia bersifat pengoksidasi, bahaya yang dapat ditimbulkan adalah dapat menyebabkan kebakaran dengan menghasilkan panas saat kontak dengan bahan organik dan bahan pereduksi.
Tindakan pencegahannya adalah Hindarkan bahan Oxidizing (O) dari panas dan reduktor. Contohnya : Hidrogen peroksida, Kalium perklorat.

 

2. Toxic (Beracun)

Simbol Bahan Kimia Beracun
Toxic berarti bahan yang bersifat beracun. Bila tertelan atau terhirup zat ini dapat menyebabkan sakit yang serius bahkan kematian.
Tindakan pencegahan adalah jangan ditelan dan jangan dihirup, hindari kontak langsung dengan kulit. Contoh bahannya : Metanol, Benzena.

 

3. Explosive (Mudah Meledak)

 Simbol Bahan Kimia Mudah Meledak

Eksplosive memiliki arti Bahan kimia yang mudah meledak dengan adanya panas atau percikan bunga api, gesekan atau benturan.

Tindakan yang perlu kita lakukan adalah hindari pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik.
Contoh bahan kimianya adalah KClO3, NH4NO3, Trinitro Toluena (TNT).

 

4. Flammable (Mudah Terbakar)

 Simbol Bahan Kimia Mudah Terbakar

Simbol selanjutnya adalah FLamable yang berarti bahan kimia yang mempunyai titik nyala rendah, mudah terbakar dengan api bunsen, permukaan metal panas atau loncatan bunga api. Jauhkan bahan kimia ini dari benda-benda yang berpotensi mengeluarkan api. Contoh bahan kimia ini adalah Minyak terpentin.

  • Zat terbakar langsung. Contohnya : aluminium alkil fosfor. Keamanan : hindari kontak bahan dengan udara.
  • Gas amat mudah terbakar. Contohnya : butane dan propane. Keamanan : hindari kontak bahan dengan udara dan sumber api.
  • Cairan mudah terbakar. Contohnya: aseton dan benzene. Keamanan : jauhkan dari sumber api atau loncatan bunga api.
  • Zat sensitive terhadap air, yakni zat yang membentuk gas mudah terbakar bila kena air atau api. 


5. Harmful Irritant (Bahaya Iritasi)

 Simbol Bahan Kimia Iritasi

Simbol X ini merupakan simbol bahan kimia berbahaya yaitu Irritan artinya bahan yang dapat menyebabkan iritasi, gatal-gatal dan dapat menyebabkan luka bakar pada kulit. Hindari kontak langsung dengan kulit. Contohnya adalah NaOH, C6H5OH, Cl2

Bahan kimia ini dapat menyebabkan iritasi, luka bakar pada kulit, berlendir, mengganggu sistem pernafasan bila ada kontak langsung dengan kulit, dihirup atau ditelan. Simbol ini terbagi menjadi 2 kode, yaitu kode Xn dan kode Xi. Kode Xn berarti adanya risiko kesehatan jika bahan masuk melalui pernafasan (inhalasi), melalui mulut (ingestion), dan melalui kontak kulit. Sedangkan kode Xi berarti adanya risiko inflamasi jika bahan kontak langsung dengan kulit dan selaput lendir.

 

6. Dangerous for Enviromental (Bahan Berbahaya bagi Lingkungan)

 Simbol Bahan Kimia Berbahaya untuk Lingkungan

Dengerous For the Environment artinya bahan kimia yang berbahaya bagi satu atau beberapa komponen lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan ekosistem.
Hindari kontak atau bercampur dengan lingkungan yang dapat membahayakan makhluk hidup. Contohnya Tributil timah klorida, Tetraklorometan, Petroleum bensin.

 

7. Corrosive (Korosif)

 Simbol Bahan Kimia Korosif

Corrosisive berarti Bahan yang bersifat korosif atau dapat merusak jaringan hidup, dapat menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal dan dapat membuat kulit mengelupas.
Hindari kontak langsung dengan kulit dan hindari dari benda-benda yang bersifat logam. Contohnya HCl, H2SO4, NaOH (>2%)


8. Compressed gas (Gas Bertekanan Tinggi)








Label ini digunakan untuk menunjukkan bahaya gas bertekanan yang dapat meledak bila tabung dipanaskan atau terkena panas. Jika tabung ini pecah, maka isinya dapat menyebabkan kebakaran.

Contohnya: gas pada perpipaan seperti gas CO2, gas nitrogen, dan gas helium


9. Health Hazard (Bahaya bagi kesehatan)



 






Zat dan campuran dengan efek toksik pada organ tertentu atau efek berbahaya kronis.

contohnya: benzena, isosianat, dan metanol



 

Sumber

https://www.studiobelajar.com/metode-ilmiah/#:~:text=Metode%20ilmiah%20adalah%20proses%20keilmuan,secara%20sistematis%20melalui%20bukti%20fisis.&text=Jika%20tidak%20dilakukan%20metode%20ilmiah,akan%20terjadinya%20suatu%20fenomena%20fisis.

https://www.dosenpendidikan.co.id/simbol-bahan-kimia/

https://ahmbio.com/10-simbol-bahan-kimia-berbahaya/


Komentar